“Bantuan?” ejek Kane yang mendengar kata-kata Leena, suaranya penuh kebencian. “Dua orang ku mati karena penduduk lokal sepertimu. Apa kau pikir aku percaya pada kata-katamu?”

“Kami tidak menyerang kalian,” jawab Leena tegas. “Kami bahkan tidak tahu siapa kalian sampai kalian datang ke sini.”

Sementara itu,saat pertarungan dimulai, Sherly yang melihat situasi kesempatan, memanfaatkan kekacauan untuk melarikan diri. Dia diam-diam mundur dari medan pertempuran, menuju jalan rahasia yang hanya dia dan beberapa orang Suku Sinto yang tahu.

"Ternyata disini persembunyian mereka." Batin Ruvan yang menyaksikan pertarungan antara pasukan Kane dan suku Sinto. "Kemana wanita itu pergi? Ini kesempatanku untuk menangkapnya."

Diam-diam, Ruvan mengikuti kepergian Sherly dan mengikuti langkahnya memasuki perkampungan. "Ternyata ada jalan rahasia disini. Mereka pasti tidak menduga jika wanita itu akan mengkhianati mereka dan masuk melalui jalur ini." Batin Ruvan sambil mengikuti Sherly dengan berhati-hati. Ruvan harus menghindari pasukan Kane, karena luka-luka yang dialaminya belum pulih, dan efek dari penggunaan formasi perubahan, rahasia suku Monrest masih terasa efeknya.

“Biarlah mereka saling menghancurkan. Leena kali ini kamu tidak akan selamat,” gumam Sherly pada dirinya sendiri sambil menyelinap menuju rumahnya. “Aku harus segera pergi sebelum mereka mengetahui kebohonganku. Aku tidak akan ikut mati bersama mereka.”

Setelah sampai di rumahnya, dia dengan cepat mencari berlian yang telah disembunyikan di bawah papan lantai. Begitu menemukannya, Sherly tersenyum puas. “Aku tidak mungkin meninggalkanmu." Kata Sherly sambil menciumnya dan memasukkannya kedalam kantong kecil di dalam pakaiannya. "Aku tinggal mencari cara untuk keluar dari tempat ini. Dengan batu berlian ini, aku akan menjadi orang kaya.”

Di medan pertempuran, Kane masih memandang Leena dengan tatapan penuh kebencian. “Jika kau berbohong padaku, aku akan memastikan kau menyesal.”

Leena menelan ludah, tetapi tetap mempertahankan tatapan tegasnya. Dia tahu satu kesalahan bisa berarti akhir dari semuanya.

Di kejauhan, Sherly yang menyelinap keluar dengan berlian di tangannya, melihat ke belakang sekali lagi sebelum berlari ke arah hutan. Dia tahu waktunya terbatas, dan Kane tidak akan memaafkannya jika dia mengetahui kebenaran.

Namun, sebuah pertanyaan tetap ada di benaknya. Apakah ini benar-benar akhir dari Leena? Atau justru awal dari kekacauan yang lebih besar?

Belum jauh Sherly memasuki hutan. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Di Depannya, sosok pria besar dengan penuh luka di tubuhnya menghentikan perjalanannya.

"Siapa kamu?" tanya Sherly dengan berhati-hati. Dia tahu tidak akan bisa lolos jika salah cara mengatasi orang di depannya.

“Kami membutuhkanmu,” kata Ruvan sambil menyeringai. “Kau adalah kunci untuk membangkitkan leluhur kami.”

Ruvan langsung menangkap dan memukul Sherly sebelum dia teriak dan membocorkan keberadaannya kepada musuh-musuhnya.

Sherly hanya bisa menatap dengan ketakutan saat Ruvan menyerangnya dan tidak lagi sadar dengan keadaan sekitar setelah melihat sosok di depannya bergerak. Ruvan segera menyeretnya menjauh ke dalam hutan gelap.

***

“Kamu tidak perlu tahu siapa kami. Katakan dimana Milo?” tanya Kane.

Kane memandangi Leena dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Tangannya masih menggenggam senjata lasernya, sementara di belakangnya, pasukannya berdiri dengan senjata siap ditembakkan.

Leena terdiam. Dia terkejut dan tidak menduga mendapat pertanyaan dari orang di depannya mengenai Milo.

“Di mana Milo?” tanya Kane mengulangi karena tidak mendapatkan jawaban, suaranya dingin dan tegas.

“Milo? Kenapa kalian mencarinya?” tanya balik Leena karena penasaran.

Kane menyipitkan matanya. “Jangan pura-pura tidak tahu. Di mana dia?”

Leena menghela napas panjang, mencoba membaca situasi. “Kalian datang bersama Sherly, kan? Apakah dia tidak memberitahu kalian tentang Milo?”

Mata Kane melebar. Dia baru sadar bahwa Sherly tidak lagi berada di dekatnya. Kane menoleh ke Valen dan Freya, yang berdiri tidak jauh darinya. “Di mana wanita itu?”

Valen mengerutkan kening, terlihat bingung. “Kami terlalu fokus pada suku ini… dia pasti kabur saat pertempuran dimulai.”

Freya menambahkan, “Kami tidak menduga dia akan melarikan diri. Maafkan kami, Komandan.”

Kane mengepalkan tinjunya dengan kuat, rasa marah membakar dadanya. Dia menendang salah satu anggota Suku Sinto yang berlutut di depannya hingga terjatuh ke tanah.

“Brengsek!” seru Kane. “Apa semua orang di sini memang penipu?!”

Penjaga yang ditendang meringis kesakitan, tetapi tetap diam, tidak ingin memperburuk situasi. Penduduk lainnya mulai gelisah, tetapi tetap menjaga jarak, tidak ingin memancing kemarahan pasukan Kane lebih jauh.

Maret melangkah maju, mencoba menenangkan situasi. “Tunggu. Tidak perlu ada kekerasan lagi. Kami akan bekerja sama.”

Kane menatap Maret tajam, tetapi sebelum dia bisa berkata apa-apa, Leena ikut angkat suara.

“Kalian tidak mengenal kami, dan kami juga tidak mengenal kalian,” kata Leena tegas. “Tetapi jika kalian benar-benar mencari Milo, aku harus memberitahu kalian… dia sudah mati. Dia sudah lama tewas diserang oleh monster.”

“Pembohong!” bentak Kane, matanya menyala penuh amarah. “Kau hanya mencoba mengulur waktu!”

Leena menggeleng. “Aku tidak punya alasan untuk berbohong. Tubuhnya masih ada di dalam gua. Jika kalian tidak percaya, aku bisa menunjukkan jalannya.”

Namun, kata-kata Leena tidak cukup untuk menenangkan Kane. Dia mengangkat senjatanya dan menembakkan laser ke salah satu penduduk Sinto yang berdiri di dekatnya.

Jeritan menggema saat tubuh penduduk itu terhuyung dan terjatuh ke tanah. Darah mengalir dari luka bakar di dadanya, dan seketika suasana menjadi kacau. Penduduk Sinto lainnya bereaksi, tetapi Maret segera mengangkat tangannya.

“Berhenti!” teriak Maret kepada penduduknya. “Jangan ada yang bergerak!”

Kane menoleh ke pasukannya, memberi isyarat agar mereka tetap siaga. Para prajurit Kane mengangkat senjata mereka, siap menghadapi setiap gerakan dari penduduk Sinto.

“Kau tahu, aku bisa membunuh kalian semua di sini dan mencari sendiri!” seru Kane kepada Leena. “Tapi aku memberi kalian kesempatan. Bawa aku ke Milo, sekarang juga! Jangan bermain-main denganku!” bentak Kane dengan suara dingin. “Kau bilang kau tahu tentang Milo. Jangan coba-coba membohongiku!”

Leena memandang tubuh yang terbaring itu dengan mata penuh duka. “Aku tidak bohong. Milo… dia sudah mati,” katanya dengan suara parau.

Kane melangkah mendekat, memandang Leena dengan tajam. “Kalau begitu, tunjukkan jasadnya. Bawa aku ke tempatnya.”

Leena menggertakkan giginya, mencoba menahan kemarahan dan kesedihannya. “Tempat itu tidak aman. Gua tempat jasad Milo berada penuh dengan monster laba-laba. Jika kalian masuk ke sana, nyawa kalian dalam bahaya.”

“Tidak peduli!” bentak Kane. “Kami tidak takut dengan monster apa pun. Kau akan membawa kami ke sana, sekarang.”

Leena tetap diam, tidak segera bergerak. Kane mengangkat senjatanya, mengarahkannya ke salah satu pria dari Suku Sinto yang sedang berdiri di dekat mereka.

“Kalau kau tidak menurut, makhluk ini akan mengalami nasib yang sama,” ancam Kane.

“Jangan!” Leena berteriak, matanya melebar. “Aku akan membawamu. Jangan sakiti siapapun lagi.”

Kane menurunkan senjatanya, tetapi ekspresi dinginnya tetap terpampang jelas. “Bagus. Kalau kau mencoba sesuatu yang licik, aku pastikan kau akan menyesal.”

Leena menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya meski rasa takut mulai menghantam hatinya. Dia tahu Kane tidak akan ragu untuk membunuh lebih banyak orang jika dia menolak.

“Baik,” kata Leena akhirnya, suaranya gemetar tetapi tetap terdengar tegas. “Aku akan mengantarkan kalian. Tapi seperti yang sudah aku katakan, gua tempat jasad Milo berada dipenuhi dengan monster laba-laba. Ribuan jumlahnya.”

Kane menggeram. “Kau pikir aku takut pada monster itu? Jangan berani-berani mencoba menunda waktu!”

“Aku tidak mencoba menunda waktu,” kata Leena, menahan emosinya. “Aku hanya memperingatkan. Jika kalian masuk ke sana tanpa persiapan, kalian semua bisa mati.”

“Cukup bicara,” kata Kane, matanya menyala dengan kemarahan. “Bawa kami ke sana sekarang.”

Leena mengangguk perlahan, kemudian menoleh kepada Maret dan Karim. “Jaga penduduk kita. Jangan biarkan mereka mendekat atau melawan.”

“Leena,” kata Karim, matanya penuh kekhawatiran. “Ini terlalu berbahaya.”

Leena menatap Karim dengan lembut. “Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak pergi, mereka akan membunuh kita semua.”

Maret hanya mengangguk kecil, meski ekspresi wajahnya penuh ketegangan.

